Iklan

Pencil Grip 101

good to understand

Iklan

this is how visual perceptual skills is important

Frozen shoulder

Frozen Shoulder (kapsulitis adhesive periarthritis bahu beku) merupakan penyakit  pada persendian glenohumeral, karakteristik nyeri dan limitasi pada semua gerakan dengan kecenderungan sembuh spontan dan pelan

Menurut Apley, istilah bahu beku hanya digunakan untuk penyakit yang ditandai dengan nyeri dan kekakuan progresif pada bahu yang biasanya berlangsung sekitar 18 bulan.

sholder

Etiologi

Bahu beku penyebabnya tidak diketahui. Diduga penyakit ini merupakan respon autoimun terhadap hasil-hasil rusaknya jaringan lokal. Proses bahu beku sering berawal sebagai tendonitis kronis tetapi perubahan-perubahan pandangan kemudian menyebar melibatkan seluruh cuff dan capsul yang mendasari. Sementara peradangan berkurang, jaringan berkontraksi, kapsul dapat menempel pada kaput humerus dan gusset sinovial infra-artikular dapat hilang oleh pelengketan (Appley, 1995).

Frozen Shoulder penyebabnya tidak diketahui. Diduga penyakit ini meruakan respons autoimun terhadap hasil-hasil rusaknya jaringan lokal. Meskipun penyebabnya idiopatik, keadaan yang serupa beberapa kali terlihat setelah Hemiplegia atau Infrak Jantung (Appley,1995)

Gambaran Klinis

Dikenal ada tiga stadium perjalanan penyakit tersebut yaitu : (1) Early Pain Full Stage. Berlangsung 10 – 36 minggu dengan rasa nyeri yang makin bertanbah setiap hari, (2) Intermediate / Frozen Stage. Berlangsung 4 – 12 bulan, pada stadium ini terasa ngilu disertai kekakuan yang makin bertambah sampai terjadi kekakuan total, (3) Recovery Stage. Berlangsung 5 –24 bulan, pada stadium ini rasa ngilu menghilang disertai lenyapnya kekakuan secara perlahan – lahan. Bila tidak mendapatkan pengobatan maka lingkup geraknya tidak akan kembali normal walau rasa nyeri telah berkurang.

Pada pemeriksaan fisik didapatkan : (1) lingkup gerak sendi yang terbatas, baik saat aktif maupun pasif,(2) pada permulaan yang terganggu hanya elevasi dan endorotasi, kemudian seluruh lingkup gerak jadi terganggu, (3) penekanan pada tendon yang membentuk muskulotendineus rotator cuff akan terasa nyeri (4) pada perabaan kaput humeri terasa letaknya lebih tinggi dalam sendi bahu mendekati acromion bila dibandingkan dengan sisi yang sehat (5) bila gangguan tersebut berkelanjutan dapat terjadi atrofi otot-otot bahu.

Prognosa

Frosen Shoulder biasanya terjadi pada umur 40 – 60 tahun, jarang dijumpai pada usia dibawah 40 tahun. Frosen shoulder lebih sering dijumpai pada wanita dari pada laki-laki. Frozen shoulder dapat mengenai 1 atau 2 bahu. Bila mengenai 2 bahu dapat terjadi dalam waktu yang bersamaan. Pada 60% – 90% penderita, lingkup gerak sendinya kembali normal, namun pada usia lanjut biasanya lingkup gerak sendinya tidak dapat kembali normal.

Menurut Appley 1995, pasien berumur 40-60 tahun dapat memiliki riwayat trauma, sering sekali ringan, diikuti sakit pada bahu dan lengan. Nyeri secara berangsur-angsur bertambah berat dan pasien sering tidak dapat tidur pada sisi yang terkena. Setelah beberapa bulan nyeri mulai berkurang, tetapi sementara itu kekakuan semakin menjadi, berlanjut terus selama 6-12 bulan setelah nyeri menghilang. Secara berangsur-angsur pasien dapat bergerak kembali, tetapi tidak lagi normal.

pundak

Rheumatoid arthritis

Rheumatoid arthritis adalah suatu penyakit autoimun dimana persendian (biasanya sendi tangan dan kaki) secara simetris mengalami peradangan, sehingga terjadi pembengkakan, nyeri dan seringkali akhirnya menyebabkan kerusakan bagian dalam sendi.

Rheumatoid arthritis adalah penyakit inflamasi yang bersifat kronis yang mengenai synovium yang ditandai dengan eksaserbasi (masa kambuh) dan remisi (masa gejala hilang).

ra

rawak

Tanda dan gejala

Tanda dan gejala rheumatoid arthritis antara lain :

(1) rheumatoid arthritis dapat muncul secara tiba-tiba, dimana saat yang sama banyak sendi yang mengalami peradangan. Biasanya peradangan bersifat simetris, jika suatu sendi pada sisi kiri tubuh terkena, maka sendi yang sama di sisi kanan tubuh juga akan meradang,

(2) persendian bengkak, khususnya pada persendian kecil yaitu tangan dan kaki,

(3) persendian lemah, kaku, dan nyeri pada pagi hari,

(4) persendian terjadi peradangan pada sendi-sendi kecil yaitu pada jari tangan, jari kaki, tangan, kaki, pergelangan tangan, siku dan pergelangan kaki, yang menimbulkan rasa nyeri dan kekakuan pada saat bangun tidur dan setelah lama tidak melakukan aktivitas,

(5) sendi yang terkena akan membesar dan terjadi kelainan bentuk,

(6) terjadi kontraktur sehingga sendi tidak dapat diregangkan dan dibuka sepenuhnya,

(7) jari-jari pada kedua tangan cenderung membengkak ke arah jari kelingking sehingga tendon pada jari-jari tangan bergeser dari tempatnya.

Diagnosis

Kebanyakan pasien penderita rheumatoid arthritis memiliki antibodi yang disebut faktor rheumatoid pada sistem aliran darah, yaitu bagian dari proses inflamatori dari penyakit. Faktor rheumatoid digunakan oleh dokter untuk membantu menegakkan diagnosis rheumatoid arthritis. Akan tetapi faktor rheumatoid mungkin tidak menjadi sebuah tes untuk mendefinisikan rheumatoid arthritis. Faktor rheumatoid ditemukan juga pada kasus infeksi kronis dan beberapa tipe dari penyakit autoimune. Level tinggi dari faktor rheumatoid sering dilihat dalam kasus berat rheumatoid arthritis.

Kriteria diagnosis dari “American College of Rheumatology State” adalah 4 dari 7 tanda dan gejala menggambarkan diagnosis rheumatoid arthritis. Gejala seperti kekakuan pada pagi hari dan bengkak sudah menggambarkan sebelum diputuskan secara pasti.

Keadaan-keadaan yang menyerupai rheumatoid arthritis adalah : demam rematik, arthritis gonokokal, penyakit lyme, sindrom reiter, arthritis psoriatik, spondilitis ankilosing, gout, pseudogout, osteoarthritis.

Pemeriksaan

Untuk memperkuat diagnosis perlu dilakukan pemeriksaan untuk membantu menegakkan diagnosis, yaitu:

(1) pemeriksaan darah. 9 dari 10 penderita memiliki laju endap eritrosit yang meningkat, sebagian besar menderita anemia, jumlah sel darah putih berkurang, 7 dari 10 penderita memiliki antibodi yang disebut faktor rematoid. Semakin tinggi kadar faktor rematoid dalam darah, maka semakin berat penyakitnya dan semakin jelek prognosisnya,

(2) pemeriksaan cairan sendi,

(3) biopsi nodul,

(4) rontgen.

Dampak rheumatoid arthritis

Gumpalan keras. 25% pasien rheumatoid arthritis tumbuh gumpalan keras di bawah kulit. Gumpalan keras itu disebut gumpalan rheumatoid. Perkembangan dari gumpalan keras itu biasanya sebagai penyerta penyakit rheumatoid arthritis. Seringkali, gumpalan rheumatoid ditemukan pada tulang, misalnya elbow, hip, tumit, dan kepala bagian belakang. Akan tetapi, gumpalan rheumatoid dapat juga terdapat di bawah kulit pada jari tangan, jari kaki dan bantalan tumit.

Gumpalan tulang dan kartilago. Jika persendian terjadi inflamasi, gangguan tulang dan kartilago dapat terjadi. Pada saat tendon terjadi gangguan tulang dan kartilago, persendian menjadi memburuk dan tidak dapat bergerak. Inflamasi dan deformitas paling sering ditemukan pada tangan dan kaki, juga pada knee, hip dan shoulder. Persendian yang memburuk juga memberi dampak yang tidak baik bagi penderita rheumatoid arthritis yaitu seperti berat badan menurun dan malas.

Pengobatan

Prinsip dasar dari pengobatan rheumatoid arthritis adalah mengistirahatkan sendi yang terkena, karena pemakaian sendi yang terkena akan memperburuk peradangan. Mengistirahatkan sendi secara rutin seringkali membantu mengurangi nyeri. Obat-obatan utama yang sering digunakan untuk rheumatoid arthritis adalah obat anti peradangan non-steroid, obat slow-acting, kortikosteroid dan obat imunosupresif.

Terapi

Untuk mengurangi peradangan sendi bisa dilakukan latihan-latihan, terapi fisik, pemanasan pada sendi yang meradang dan juga pembedahan. Sendi yang meradang harus dilatih secara halus sehingga tidak terjadi kekakuan. Setelah peradangan mereda, bisa dilakukan latihan aktif yang rutin, tetapi jangan sampai terlalu lelah. Biasanya latihan akan lebih mudah jika dilakukan di dalam air. Untuk mengobati persendian yang kaku, dilakukan latihan yang intensif untuk meregangkan sendi secara perlahan. Selain itu menggunakan splint dan nutrisi yang baik karena pasien yang penyakitnya memburuk sering mengalami anemia dan menurunnya berat badan.

Gangguan Pemusatan Perhatian / hiperaktivitas , Attention Deficite Hiperactivity Disorder (ADHD)

Definisi

Gangguan Pemusatan Perhatian/Hiperaktifitas (GPPH) atau Attention Deficite Hiperactivity Disorder (ADHD) adalah gangguan yang umum ditemukan dengan kondisi medis yang kompleks yang khas ditandai dengan adanya kurang perhatian, impulsif atau hiperaktif yang secara nyata mengganggu kehidupan penderita.

Gangguan Pemusatan Perhatian/Hiperaktifitas (GPPH) adalah gangguan yang ditandai dengan kemampuan yang lemah untuk menyelesaikan tugas, aktifitas motorik berlebihan dan impulsivitas. Anak-anak ini gelisah, sulit duduk manis disekolah, mudah bingung, sulit menunggu giliran, menjawab pertanyaan sekenanya, kesulitan dalam mengikuti instruksi dan berkonsentrasi, cepat berganti-ganti dari satu kegiatan yang belum selesai kekegiatan yang lain, berbicara dengan sangat keras, mengganggu anak lain, agaknya jarang mendengar apa yang sedang dikatakan, sering kehilangan barang, dan sering terlibat dalam kegiatan berbahaya secara fisik tanpa mempertimbangkan akibat yang mungkin terjadi

Kriteria diagnosa ADHD berdasarkan DSM-IV (Diagnostic and Statistical manual of Mental Disorders Fourth Edition) tahun 1994 sebagai berikut :

  1. Kelompok (1) atau (2)

    1. Gangguan Pemusatan Perhatian (Inattention)

Sekurang-kurangnya enam dari gejala Gangguan Pemusatan Perhatian ini muncul minimal dalam enam bulan terakhir.

      1. sering gagal memberi perhatian secara teliti, atau kurang teliti dalam bekerja, mengerjakan tugas sekolah atau tugas lainnya

      2. sering mengalami kesulitan untuk memusatkan perhatian dalam suatu tugas dan permainan

      3. sering seakan tidak mendengar ketika dipanggil atau diajak berbicara

      4. sering tidak mengikuti instruksi dan gagal dalam menyelesaikan tugas-tugas sekolah atau suatu pekerjaan (bukan berarti bersikap melawan atau tidak memahami instruksi)

      5. sering mengalami kesulitan mengorganisasikan tugas dan aktivitas

      6. sering menghindari, tidak suka atau malas untuk tugas yang memerlukan pengendalian diri (misal dalam mengerjakan pekerjaan sekolah atau pekerjaan rumah)

      7. sering kehilangan alat-alat untuk mengerjakan tugas atau aktifitas (misal : buku, mainan, peralatan, dan lain-lain)

      8. mudah terganggu dengan adanya stimulus dari luar atau mudah beralih perhatiannya

      9. sering lupa pada kegiatan/tugas rutin

    1. Hiperaktifitas-Impulsifitas

Sekurang-kurangnya enam dari gejala ini muncul minimal dalam enam bulan terakhir.

Hiperaktifitas :

      1. sering kaki dan tangan tidak bisa diam atau banyak bergerak di tempat duduk

      2. sering berdiri atau berjalan pada situasi yang dituntut untuk duduk (di dalam kelas)

      3. sering berlari-lari atau memanjat tanpa memperdulikan lingkungan (kelihatan gelisah)

      4. mengalami kesulitan utnuk bermain dengan tenang dan santai

      5. sering seakan selalu “bergerak” atau seperti “digerakkan” oleh mesin

      6. sering berbicara terlalu banyak

Impulsivitas

  1. sering menjawab sebelum pertanyaan selesai

  2. sering tidak bisa menunggu giliran, baik dalam bermain maupun berbicara

  3. sering menginterupsi orang lain (misalnya dalam percakapan atau permainan)

    1. Gejala Hiperaktivitas-Impulsivitas atau Gangguan Pemusatan Perhatian muncul sebelum umur 7 tahun

    2. Gejala ini muncul dalam dua atau lebih situasi (misal di sekolah dan di rumah)

    3. Harus ada bukti jelas gangguan klinis dalam fungsi sosial, akademik atau pekerjaan

    4. Gejala tidak muncul bersamaan dengan gangguan perkembangan, skizofrenia, gangguan psikotik lain atau gangguan mental

     

Prognosa

Meskipun hiperaktifitas mungkin berlangsung singkat tetapi gejala lain ADHD dapat menetap pada kehidupan berikutnya.

Apabila keadaan tersebut tidak ditangani dengan baik, anak dalam resiko tinggi untuk terjadinya gangguan kemampuan belajar, penurunan kepercayaan diri, masalah sosial, kesulitan keluarga, potensial untuk efek yang timbul dikemudian hari.

Stimulasi Kognitif

kognisi adalah  proses mental yang meliputi atensi, memori, memproduksi dan memahami bahasa, belajar, penalaran, pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan (Wikipedia, http://en.wikipedia.org/wiki/Cognition)

pada beberapa gangguan kesehatan kemampuan kognisi bisa mengalami gangguan, seperti pada anak hiperaktif atensi yang buruk membuatnya kesulitan untuk menyerap pelajaran di kelas, gangguan memori pada pasien demensia membuatnya kesulitan untuk berbelanja sendirian karena lupa apa yang harus dibeli, dan lain sebagainya.

Berikut beberapa teknik stimulasi untuk menangani problema kognitif :

1. Remedial

Pendekatan ini bertujuan untuk memulihkan dan meningkatkan fungsi kognitif dengan mendukung dan memfasilitasi kemampuan otak untuk pemulihan dan plastisitas. Pendekatan ini berasal dari teori pemulihan dari cedera otak. Ini mengasumsikan kapasitas untuk pemulihan fungsi, melalui proses seperti plastisitas sel syaraf, sinaptik dan reorganisasi fungsi di mana daerah tidak rusak dari otak mengambil alih fungsi sel syaraf yang rusak. Metode ini bertujuan untuk meningkatkan gangguan pada bagian tertentu (misalnya untuk pelatihan memori, table-top latihan persepsi)  sehingga menghasilkan perbaikan komponen, dan ini pada gilirannya akan mengakibatkan peningkatan kinerja fungsional.

 

2. Adaptif

Pendekatan ini mengakui bahwa gangguan kognitif sering bertahan untuk beberapa derajat setelah cedera otak, didasarkan pada premis bahwa pemulihan dalam sistem saraf pusat terbatas.
Fokusnya adalah pada mengoptimalkan fungsi yang tersisa, dan memanfaatkan kapasitas seseorang untuk belajar strategi dan teknik baru untuk mengatasi kesulitan. Hal ini juga mencakup manipulasi lingkungan untuk memenuhi kebutuhan orang tersebut. Peningkatan kemampuan fungsional dicari melalui penggunaan strategi dan teknik untuk mengkompensasi gangguan. Metode pengobatan menggunakan
teori belajar, dan bisa melibatkan adaptasi kegiatan atau lingkungan untuk mengkompensasi keterbatasan, danmengoptimalkan kemandirian . Dalam kasus orang dengan defisit terus-menerus dari persepsi diskriminasi terhadap suatu objek yang dilihatnya, penggunaan warna-warna cerah untuk membedakan peralatannya akan membantu untuk mencari dan mengidentifikasi barang-barang di dapur saat memasak.

3. Proses

Proses Pendekatan. Menekankan kebutuhan terapis untuk terus beradaptasi terhadap status anak yang berubah dan terhadap perubahan lingkungan. Pengobatan memandu anak melalui urutan deteksi, diskriminasi dan analisis dan generalisasi hipotesis sambil melakukan kegiatan terapi. Digunakan untuk anak-anak berfungsi lebihtinggi, pendekatan ini menantang pikiran mereka untuk berpikir terlebih dahulu, sebelum memberikan jawaban. Artinya, untuk memahami pertanyaan pertama, dan bukan hanya sekedar mengandalkan memori hafalan.

4. multi-konteks

Pendekatan Multi-Konteks . Menggunakan faktor eksternal  (konteks lingkungan, sifat tugas dan kriteria untuk belajar)  serta faktor internal pasien (metakognisi, strategi pengolahan, dan karakteristik peserta didik). Sebuah strategi tertentu ditargetkan dan dipraktekkan di beberapa lingkungan untuk meningkatkan kemungkinan transfer dengan berbagai tugas dan tuntutan gerakan. Buatlah belajar itu disetiap kesempatan dan di setiap lingkungan

contoh : Alphabet-Jika anak sedang diajarkan alfabet di sekolah atau dalam terapi, cobalah memperkuat konsep di rumah. Ketika menonton TV, Anda mungkin ingin meminta anak nama saluran mereka menonton ketika logo muncul (yaitu RCTI, Indosiar, SCTV, MNC, Tran TV). Ketika di mal, cobalah untuk mengeja nama-nama toko (yaitu Jollibee, MCDONALDS, KFC). Ketika keluar di jalan-jalan, mengeja nama jalan atau tanda-tanda bus.

Developmental Coordination Disorder / Gangguan Koordinasi Gerak

Perkembangan lingkungan masa kini mempengaruhi proses tumbuh kembang anak-anak. Bila hal ini tidak cermat disikapi oleh para orang tua, bias memunculkan gangguan tumbuh kembang yang terjadi pada anak. Semakin padatnya kurikulum sekolah yang harus dijalani, minimnya alokasi waktu anak untuk melakukan aktivitas olahraga, waktu anak yang banyak dihabiskan dengan beragam les, pergeseran pola permainan tradisional menjadi modern yang membuat anak hanya duduk berjam-jam menghabiskan waktu di depan layar computer, kurang bermain dengan alam. Hal ini akan menyebabkan anak menjadi pasif, kurang berinteraksi, sehingga muncul beragam keterlambatan, salah satunya adalah Developmental Coordination Disorder atau Gangguan Koordinasi Gerak.

a2_s

Definisi

Kondisi pada anak yang ditandai dengan lemahnya koordinasi gerak dan kualitas otot tubuh secara keseluruhan lemah/ lembek/ soft Hipotonus/ clumsy.

“… Gerakannya lucu, lemah dalam bermain game, tidak suka “dance”/ senam atau olah raga, tulisan dan atensi jelek. Tidak bisa duduk tegak, tidak memperhatikan, tidak bias menalikan tali sepatu, tidak bisa memasangkan kancing baju, sering menabrak perabot rumah, tidak suka membaca”

Gangguan ini dikenal juga dengan beragam nama : Anak yang lemah (clumsy child), Minimal Brain Dysfunction (MBD), Gangguan Perkembangan Praksis, Disfungsi Perseptual-Motor, Kesulitan Untuk Belajar Bergerak, Gangguan Integrasi Sensori (perencanaan gerak), Gangguan atensi dan persepsi motorik.

Menurut DSM 4 Kriteria untuk DCD adalah :

A. Kemampuan keseharian anak yang memerlukan koordinasi gerak TERTINGGAL atau DIBAWAH dibanding usia kronologis dan IQ yang dimilikinya

Manifestasi:

1. Keterlambatan pada PERKEMBANGAN MOTORIK  Seperti: merangkak, duduk, berjalan

3. Membawa benda sering jatuh

4. Clumsiness

5. Anak tidak bisa/jelek dalam aktivitas olah raga; menulis

B. Kriteria A mengganggu secara signifikan pada pencapaian akademik dan aktivitas Keseharian

C. Gangguan BUKAN disebabkan karena penyakit (CP, Down Syndrome atau gangguan perkembangan Pervasif)

D.Jika terdapat Retardasi Mental, Gangguan Motorik berhubungan dengan Retardasi Mental tersebut

DCD dapat berdiri sendiri atau gabungan dengan gangguan yang lain seperti Gangguan Komunikasi

Dalam hal ini anak akan menjadi Clumsiness (Bhs Jawa: Nglemprek, layu/lemah) sehi ngga muncul hal hal sebagi berikut :

– Gerakan : tidur ke duduk, merangkak dan berjalan terlambat

– Problem: menyedot, menelan (tahun-tahun pertama)

– Koordinasi Motorik kasar lemah: meloncat, berdiri satu kaki, lempar tangkap bola, dll olah raga lemah

– Koordinasi motorik halus: menulis, menggunting, menali sepatu, koordinasi gerakan jari tangan lemah

– akademik lemah

– Emosi dan Perilaku :

1. Tidak tertarik pada aktivitas/ menghindar khususnya aktivitas yang memerlukan tenaga, ketangkasan dan ketahanan

2. Anak menghindar pada waktu bermain di playground dan lebih sering mencari teman yang lebih rendah umurnya karena tidak percaya diri (gerak motorik terlambat)

3. Toleransi frustasi, rasa percaya diri rendah

4. Strategi untuk mengatasi masalah lemah

5. Anak tidak puas dengan apa yang dilakukan, mudah frustasi

Penyebab

  1. Kemungkinan Pertama anak kesulitan untuk menterjemahkan dan mengintegrasikan informasi yang diterima melalui mata, raba, vestibular, posisi persendian, atau gerakan otot
  2. Kemungknan yang kedua anak kesulitan untuk memilih tipe gerakan motorik untuk situasi yang tepat. Untuk memilih gerakan yang tepat anak harus mempertimbangkan dimana gerakan akan dilakukan
  3. Kemungkinan yang ketiga adalah anak kesulitan untuk merencanakan gerak dengan sekuensis yang tepat. Perencanaan gerak memerlukan serangkaian perintah pada otot untuk melakukan gerakan tertentu.
  4. Kemungkinan yang terakhir pesan yang disampaikan pada otot harus spesifik: kecepatan, kekuatan, arah, jarak untuk bergerak atau merespon sesuatu gerak/ stimulus : Melempar tangkap bola

Prevalensi

Biasanya terlihat pada usia 6-12 tahun 10 tahun yang lalu, prevalensi= 10-19% pada anak sekolah Dengan kriteria DCD prevalensi sekarang: 5-8 % usia SD Laki-laki : Perempuan= 2:1

Prognosis

Jika tidak mendapatkan terapi, DCD akan berlanjut sampai remaja – dewasa. Pada penelitian jangka panjang anak yang didiagnosis DCD pada umur 15 th, 46% tanda dan gejala DCD masih ada sampai usia 25 tahun (FLoet & Duran, 2010)

Treatment

1. Tidak ada obat khusus untuk kondisi DCD

2. Edukasi pada anak

Modifikasi di sekolah dan pada situasi social

Problem DCD bukan salah dia, kurang berusaha atau tidak pandai

3. Anak DCD yang diserta kondisi penyakit atau syndroma yang lain diberikan intervensi sesuai tanda dan gejala yang ada

Peran Okupasi Terapi

Pemeriksaan

1. Motorik Halus, Motorik Kasar, Koordinasi Gerak, Kemampuan Menulis, Problem Perilaku & Emosi,

2. Ketrampilan bantu diri, Kesulitan bermain & interaksi sosial, KetrampilanKetrampilan Menulis

Modalitas Intervensi

1. Sensory Integration

2. Training Motorik Halus, termasuk menulis

3. Behavior Management

4. Training Ketrampilan bantu diri

5. Play Therapy

6. Group Therapy (Terapi Kelompok)

images            lindsey-arlo-ball

occupational-therapy

Peran Orang Tua di Rumah (Missiuna, 2003)

  1. Dorong untuk aktif ikut berolah raga dan bermain kesenangan BUKAN kompetisi

  2. Cari permainan dan olah raga yang mudah dilakukan

  3. Dorong untuk ikut aktivitas bermain secara kelompok secara bertahap

  4. Pakai pakaian, sepatu yang mudah dipasang dan dilepas

  5. Ajak untuk mengerjakan aktivitas domestik di rumah: mencuci mobil/ motor, mengelap kaca, dll

  6. Gunakan aset kelebihannya untuk meningkatkan kemampuannnya